Pak Slamet, 58 tahun, petani padi di Karawang Jawa Barat, kini mengoperasikan drone dari ponsel pintarnya. Dua tahun lalu, dia bahkan tidak tahu cara membuka aplikasi. Hari ini, drone miliknya bisa menyemprot pestisida 15 hektar sawah hanya dalam dua jam—pekerjaan yang dulu membutuhkan seminggu dan belasan buruh.
Di seluruh Indonesia, kisah seperti Pak Slamet mulai bermunculan. Startup agritech berlomba membawa teknologi ke ladang. Pemerintah menggulirkan subsidi untuk adopsi alat modern. Dan hasilnya mulai terlihat: produktivitas naik, biaya produksi turun, dan yang tidak terduga—petani muda mulai tertarik kembali ke pertanian.
Data & Fakta
Peningkatan produktivitas dengan smart farming
Startup agritech aktif di Indonesia
Nilai pasar agritech 2025
Pengurangan penggunaan pestisida
Sorotan Utama
Drone penyemprot pestisida dan pupuk mampu menjangkau area berlereng yang sulit diakses traktor. Satu drone setara dengan 15 tenaga kerja manual per hari.
Sensor kelembapan, pH, dan nutrisi tanah dipasang di lahan. Data real-time dikirim ke ponsel petani, memungkinkan irigasi tepat waktu dan takaran pupuk presisi.
Kamera di ladang menangkap gambar tanaman setiap jam. Model AI mendeteksi gejala penyakit dan serangan hama lebih awal dari mata manusia, menghemat 40% hasil panen.
Masa depan ketahanan pangan Indonesia
Diterbitkan
November 2025
Tim Produksi
Produser
Rini Sulistyo
Naskah
Ahmad Fauzi
UI/UX Designer
Putri Amalia
Engineer
Kevin Santoso